Pentingnya Memiliki Kemampuan Literasi Digital di Tengah Maraknya Konten Negatif

Literasi digital merupakan suatu bentuk kecakapan yang dimiliki seseorang dalam memanfaatkan media digital maupun alat komunikasi untuk mendapatkan informasi secara luas. Kemampuan literasi digital tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan seperti mengoperasikan perangkat komputer atau gadget lainnya saja, tetapi juga disertai dengan kemampuan memahami, mengolah, dan mengaplikasikan informasi secara tepat dalam berbagai bentuk.

Kemampuan literasi digital memungkinkan seseorang untuk memiliki kemampuan berfikir secara kritis dan kreatif. Selain itu, seseorang yang memiliki kemampuan literasi digital yang baik akan mampu menyaring berbagai informasi yang diterimanya serta menghindarkan dari risiko cybercrime.

Literasi digital berkaitan erat dengan perkembangan teknologi yang pesat dan cukup mudah dalam membantu menjalankan kegiatan sehari-hari, seperti perkiraan cuaca pada berita di situs online. Mengutip dari databoks, pengguna internet di dunia pada awal Januari mencapai 4,95 miliar yang mana meningkat 45 dari tahun lalu yang hanya 4,76 miliar. Sedangkan di Indonesia, menurut DataReportal, pengguna internet Indonesia pada awal 2022 mencapai 204,7 juta orang.

Kehadiran media digital di masa perkembangan teknologi sejatinya dapat membawa beragam manfaat bagi masyarakat. Dengan adanya media digital, masyarakat kini dapat memperoleh informasi dan pesan dari berbagai tempat secara simultan tanpa harus menunggu lama. Tak hanya menerima, masyarakat pun juga bisa turut serta dalam berbagi dan mengirimkan informasi kepada orang lain.

Namun, dengan kemudahan akses yang menghadirkan banyak pengguna digital, peluang untuk terjadinya penyalahgunaan media tersebut pun menjadi semakin besar pula. Penyalahgunaan tersebut dapat berupa pengaksesan situs pornografi, penyebaran hoaks, dan ujaran kebencian yang dapat menyebabkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain.

Berdasarkan kemungkinan-kemungkinan buruk tersebut, sosialisasi mengenai literasi media digital sangat perlu dilakukan untuk menghalau tentang hal-hal negatif yang ada dan yang mungkin akan dibagikan dalam media digital itu sendiri. Melalui adanya sosialisasi yang diberikan, secara tidak langsung sosialisasi tersebut akan mulai membangun kesadaran dalam penggunaan media digital itu sendiri bahwa kita memiliki tanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain, juga akan apa yang kita akses atau apa yang kita bagikan.

Jika kita sudah mengetahui literasi digital, maka kita bisa menganalisis dan berpikir secara lebih mendalam supaya aplikasi digital tidak menjadi bumerang yang merugikan diri kita maupun orang lain. Dengan memahami literasi digital pula, diharapkan kita bisa menjadi generasi dengan karakter baik dalam penggunaan internet atau teknologi.

Penerapan kasusnya, media digital bisa menghantui pengguna media baru, seperti anak-anak. Anak-anak sebagai salah satu kelompok usia yang paling rentan terpapar akan bahaya dari konten negatif semestinya perlu mendapat bimbingan dan pengawasan intensif dari orang tua. Namun sayangnya, sampai saat ini belum semua orang tua memiliki pemahaman yang baik akan literasi digital.

Padahal di masa sekarang ini kecakapan literasi digital sangatlah diperlukan guna menciptakan pola pikir masyarakat yang kritis dan kreatif dalam menyikapi beragam konten negatif. Dengan ini, sosialisasi kepada para orang tua dinilai sangat penting.

Contoh penerapan sosialisasi ini adalah kegiatan yang diadakan Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro dengan aksi literasi digital bagi para wali murid. Kegiatan ini dilaksanakan di TK Karakter Pelangi Nusantara, Semarang pada 12 Maret 2022. Sosialisasi literasi tersebut berlangsung secara luring dan virtual melalui aplikasi Zoom yang menghadirkan 20-an orang tua.

Pelaksanaannya berupa ceramah dan diskusi interaktif oleh Agus Naryoso, S. Sos. M. Si mengenai banyaknya konten dewasa yang mulai merebak di kalangan anak-anak. Televisi pun, pada jam-jam anak belajar disuguhi acara dewasa atau berkecenderungan menjadi tayangan pornografi. Agus mengajak orang tua sebagai wali murid menjadi teladan dalam penggunaan teknologi.

Anggota:

  1. Hafid Reyhan Uly Fuady (14040121130078)
  2. M. Faris Asrofi (14040121130088)
  3. Sefanya Ghaisani H. (14040121140159)
  4. Muhammad Nur Arif (14040121130114)
  5. Sheren Aliya Dewi (14040121120010)
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.